<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mynameishasna's Blog</title>
	<atom:link href="http://mynameishasna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mynameishasna.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Dec 2011 07:28:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mynameishasna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mynameishasna's Blog</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mynameishasna.wordpress.com/osd.xml" title="Mynameishasna&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mynameishasna.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lelaki virtual di dunia khayal</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2011/12/02/lelaki-virtual-di-dunia-khayal/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2011/12/02/lelaki-virtual-di-dunia-khayal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 04:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Semarang, 28 April 2008 Aku tak hendak menyalahkan takdir yang telah mempertemukan cinta kami. Aku tak hendak membangkang takdir Tuhan yang telah menggariskan cinta kami. Permasalahannya adalah, Tuhan hanya membiarkan  cinta kami yang bertemu, karena faktanya kami belum pernah bertemu sekalipun. Aku tak tahu bagaimana bisa cinta yang telah kami perjuangkan ini melampaui tiga tahun. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=102&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mynameishasna.files.wordpress.com/2011/12/siluet2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-103" title="siluet2" src="http://mynameishasna.files.wordpress.com/2011/12/siluet2.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><em>Semarang, 28 April 2008</em></p>
<p>Aku tak hendak menyalahkan takdir yang telah mempertemukan cinta kami. Aku tak hendak membangkang takdir Tuhan yang telah menggariskan cinta kami. Permasalahannya adalah, Tuhan hanya membiarkan  cinta kami yang bertemu, karena faktanya kami belum pernah bertemu sekalipun. Aku tak tahu bagaimana bisa cinta yang telah kami perjuangkan ini melampaui tiga tahun. Ya, masa tiga tahun ini adalah waktu yang kami perjuangkan untuk menjaga cinta ini. Sekali lagi ini adalah permasalahan Tuhan (selaku pembuat takdir) dan saya (selaku penerima takdir). Takdir telah menggariskannya untuk kami. Dan mau tidak mau saya harus menerimanya.</p>
<p>Dan kemudian hadirlah jarak yang merupakan <span style="text-decoration:line-through;">pemisah</span> ujian untuk kami. Jarak telah membentangkan samudra Atlantik dan Laut Merah. Hanya laut sebenarnya yang menjadi <span style="text-decoration:line-through;">pemisah</span> jarak antara kami. Kau tahu kawan, laut itu hanya dibatasi garis tipis yang bernama cakrawala dan hanya karena takdir kami tidak dapat dipertemukan. Hanya karena takdir aku harus menunggu dia. Menunggu jarak yang mungkin tak lagi menjadi pemisah untuk kami. Menunggu takdir untuk benar-benar mempertemukan kami. Karena bahkah hidup tak memberiku banyak pilihan selain menunggu dia.</p>
<blockquote><p>Kau tahu kawan, Rindu adalah satu-satunya kemewahan yang aku miliki. Adalah pada angin kutitipkan puisi yang tiap lariknya terdapat pongahanku-tentang ruang tanpa jeda dalam rindu yang tersandra. Rindu telah sedemikian rupa menyumsum hingga ketulang. Dan aku tak mampu menegasikan lagi, selama tiga tahun aku hanya mampu menyimpan rindu ini. Tak ayal, rinduku terkadang melebam hingga aku merasakan luka yang tak terhingga. Kemudian dalam ketidakberdayaanku akan rindu yang semakin pilu, air mata hadir menemaniku. Hanya air mata. Bukan kehadirannya.</p></blockquote>
<p>Berawal dari dunia virtual aku mengenal dia. Lelaki virtual yang hanya ada di jejaring sosial. Perjumpaan sesaat yang menyekat diantara kita menghadirkan getar yang kian menggelora. Perjumpaan kata-kata yang sederhana membuatku semakin menginginkan hadirnya. Namun, dalam tiga tahun ini aku hanya mampu bersosial media tanpa pernah tau bagaimana juntrungannya. Dan itulah perlakuan takdir kepada kami.</p>
<p>Begitulah cinta kawan, beginilah kami. Begitulah takdir yang selalu menguji cinta kami.</p>
<p>Oh iya, namaku Malika, dan lelaki virtual itu adalah Akbar. Kita memang berbeda dalam segalanya kecuali dalam cinta. Dan di ruang tanpa kata, kesetiaan itu tetap terjaga. Menunggu datangnya masa saat perjamuan mencetak nyata. Dua wajah bertemu, saling tatap dari kedalamannya dan menghidangkan cinta sebagai menu utama yang merunut pada mata hati, senyatanya.</p>
<p><em>Semarang, 15 Oktober 2011</em></p>
<p>Hari itu tiba. Hari dimana aku bisa bercengkerama dengannya. Hari dimana aku bisa menyentuhnya. Hari dimana aku tak butuh lagi jejaring sosial ataupun telpon seluler. Hari dimana aku bertemu bertemu dia pertama kali setelah 3 tahun lebih hanya melihatnya di webcam dan skype.</p>
<p>Kau tahu betapa bahagianya aku kawan, ketika aku bisa benar-benar mendengar suara tanpa alat bantu headphone. Kau tahu betapa bahagianya aku kawan ketika aku benar-benar melihat wajahnya tanpa terhalang layar PC. Kau tahu betapa bahagianya aku kawan ketika aku benar-benar menyentuh tangannya dan merasakan wangi tubuhnya. Ah, kau tak akan pernah tahu sepertinya.</p>
<p>Kita bertemu pada sore yang teduh dan dalam beberapa menit kemudian senja merayap syahdu. Aku sempat tak yakin apakah dia mengenaliku. Aku memang ragu apakah waktu 3 tahun belum cukup untuk dia mengenaliku. Akupun sama, apakah lamanya waktu itu bisa menjamin semuanya? Barangkali waktu hanya sekedar kalkulasi kosong untuk memberikan sebuah jeda. Dan kita hanya bertemu 3 dalam waktu hari. Setelah 3 tahun lebih aku menunggunya. Tiga hari bukanlah waktu yang lama tentunya. Ya, Apakah waktu itu bisa menjamin semuanya?.</p>
<p>Dan pembicaraanpun dimulai. Dia bertanya-tanya apakah aku mencintainya seperti dia mencintaiku, padahal aku tak menahu bagaimana cara dia mencintaiku. Saat itu aku hanya bilang bahwa aku akan selalu menunggunya sampai kapanpun. Entah kekuatan apa yang menyebabkan aku sanggup mengatakan kalimat itu. Konyol memang. Aku telah 3 tahun menunggu dia, dan aku berkata padanya bahwa aku masih sanggup untuk menunggu lagi sampai kapanpun. Inilah cinta kawan, beginilah saya, begitulah dia.</p>
<p>Dan pada akhir perjumpaan kami di sebuah pagi pasi dengan gerimis yang tak kunjung henti, dia pun harus pergi. Dia kembali ke rumahnya. Dan entah mengapa aku merasa bahwa dia akan benar-benar pergi selamanya. Dia berjanji kepadaku untuk bertemu lagi. Dia berjanji kepadaku untuk bercengkerama lagi. Dia berjanji kepadaku untuk melihat senja di sebuah pantai dengan semburat jingga yang merona. Ya, yang dia berikan kepadaku hanya janji. Dan kau tahu kawan, aku melumat janji itu tanpa basa-basi.</p>
<p>Selang beberapa minggu kemudian dia mengirimkan pesan kepadaku:</p>
<p><em>“Tuhan telah mengatur jodoh kita dan aku tak hendak pusing lagi dengan aturan Tuhan. Yang pasti saat ini aku hanya ingin fokus mempersiapkan masa depan”</em></p>
<p>Aku membalas pesan itu dengan getir:</p>
<p><em>“Terimakasih telah menjadi orang yang membuat aku selalu ingin menunggu. Semoga kau mampu meraih cita-citamu”</em></p>
<p>Kemudian hujan luruh. Hujan dari langit sama derasnya dengan hujan dari mata ini. Mendung sudah terlalu lama meronta, petir sudah terlalu lama membuatku getir. Maka air mata itupun tumpah menderai hati yang telah patah. Hingga hujan dan air mata terhenti yang tersisa hanya air yang menggenang dan kenangan yang sedemikian nyalang.</p>
<p>Benar kawan, waktu memang tak bisa menjamin segalanya. 3 tahun sekian bulan itu tak mampu berbuat banyak untuk memperjuangkan hubungan kita. Tak ada yang patut disesali. Aku hanya perlu belajar untuk tidak membuang waktuku lagi. Aku yakin jika ada orang yang mau membeli waktuku yang selama 3 tahun lebih telah terbuang sia-sia, pastilah aku akan menjadi seorang kaya raya.</p>
<p>Sepertinya aku baru saja dibangunkan dari mimpi panjang indah tidurku. Ya hanya mimpi ternyata. Dan sesempurna apapun mimpi itu aku tak akan mampu memindainya menjadi nyata. Bukan karena aku wanita dan aku terlalu lemah untuk memindainya. Bukan juga karena lelaki dalam mimpiku yang begitu sempurna hingga aku tak mampu menyentuhnya. Ini hanya sebuah mimpi kawan. Aku tak ingin terlalu banyak lagi merepotkan Tuhan dengan mengharap permintaan konyol untuk memindai mimpi ini di dunia nyata. Walaupun barangkali Tuhan sudi untuk mempertimbangkan permintaanku. Ah, sudahlah kawan, ini hanya mimpi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=102&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2011/12/02/lelaki-virtual-di-dunia-khayal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mynameishasna.files.wordpress.com/2011/12/siluet2.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">siluet2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I was attacked by Writer&#8217;s Block Syndrome!</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2011/02/09/i-was-attacked-by-writers-block-syndrome/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2011/02/09/i-was-attacked-by-writers-block-syndrome/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 10:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita ajach...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa tahun ini saya ndak pernah (sama sekali) ngotak-ngatik blog saya. Sudah beberapa waktu ini saya ndak pernah nyerpen ataupun bikin puisi. Sudah beberapa waktu ini saya jarang nonton film. Sudah beberapa waktu ini saya jarang baca buku. Sudah beberapa waktu ini saya ndak pernah diskusi. Sudah beberapa waktu ini saya ndak pernah bobok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=84&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Sudah beberapa tahun ini saya ndak pernah (sama sekali) ngotak-ngatik blog saya.</p>
<p>Sudah beberapa waktu ini saya ndak pernah nyerpen ataupun bikin puisi.</p>
<p>Sudah beberapa waktu ini saya jarang nonton film.</p>
<p>Sudah beberapa waktu ini saya jarang baca buku.</p>
<p>Sudah beberapa waktu ini saya ndak pernah diskusi.</p>
<p>Sudah beberapa waktu ini saya ndak pernah bobok siang. (^o^)</p>
<blockquote><p>Dan saya tak lagi “a curious little mind” seperti dulu.</p></blockquote>
<p>Karena apa?</p>
<p>Yang di sana tau kenapa?</p>
<p>Yang di sini tau kenapa?</p>
<p>Mari kita cari tahu kenapa. Loh?</p>
<p>JAWAAAABANYAAAA ADALAAAH (ala fitrop)</p>
<p><a href="http://mynameishasna.files.wordpress.com/2011/02/jangan-berhenti-menulis.jpg"><img class="alignleft" title="writer's block" src="http://mynameishasna.files.wordpress.com/2011/02/jangan-berhenti-menulis.jpg?w=300&#038;h=214" alt="&quot;writer's block&quot;" width="300" height="214" /></a></p>
<blockquote><p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>I was attacked by Writer&#8217;s Block Syndrome</strong>.</p></blockquote>
<p>Apakah anda percaya?</p>
<p>Terimakasih kalau anda tak percaya.</p>
<p>Karena saya sedang berapologi.</p>
<p>Bukan mencari kambing hitam cyiiiint,</p>
<p>Hanya apologi. =))</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=84&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2011/02/09/i-was-attacked-by-writers-block-syndrome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mynameishasna.files.wordpress.com/2011/02/jangan-berhenti-menulis.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">writer&#039;s block</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>15 mg tar. 1 mg nikotin</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2010/09/10/15-mg-tar-1-mg-nikotin/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2010/09/10/15-mg-tar-1-mg-nikotin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Sep 2010 14:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[15 mg tar, 1 mg nikotin Aku selalu membutuhkan sepi. Selalu membutuhkan sunyi yang membuatku bertanya dan mencari dengan gelisah dalam 15 mg tar, 1 mg nikotin. Aku menikmati setiap hisapan itu, dan kemudian kuhembuskan dalam kepulan asap putih yang menganak di udara. Biarlah asap itu hilang seperti kau dalam remang senja yang menyedihkan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=80&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>15 mg tar, 1 mg nikotin</strong></p>
<p>Aku selalu membutuhkan sepi. Selalu membutuhkan sunyi yang membuatku bertanya dan mencari dengan gelisah dalam 15 mg tar, 1 mg nikotin. Aku menikmati setiap hisapan itu, dan kemudian kuhembuskan dalam kepulan asap putih yang menganak di udara. Biarlah asap itu hilang seperti kau dalam remang senja yang menyedihkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=80&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2010/09/10/15-mg-tar-1-mg-nikotin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOSONG</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/11/16/kosong/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/11/16/kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 06:26:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/2009/11/16/kosong/</guid>
		<description><![CDATA[Entah. Di teras ini dia masih terdiam. Tinta tanpa makna yang kini tercecer di lembar kertas putih memilih membisu. Kebisuan macam apa ini? Tak ada satu huruf pun yang tertinggal di altar sunyi. Tak ada satu goresan pun yang tercoret di catatan ini. Jiwa ini telah mati. Sendiri di pelataran sepi. Kosong itu pasi. Kosong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=77&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } -->Entah. Di teras ini dia masih terdiam. Tinta tanpa makna yang kini tercecer di lembar kertas putih memilih membisu. Kebisuan macam apa ini? Tak ada satu huruf pun yang tertinggal  di altar sunyi. Tak ada satu goresan pun yang tercoret di catatan ini. Jiwa ini telah mati. Sendiri di pelataran sepi.</p>
<p>Kosong itu pasi. Kosong itu belati yang siap menikam hati yang letih ini. Kosong itu judi; segala kemungkinan dan harapan tanpa intervensi. Kosong itu gerimis hambar di waktu pagi. Kosong itu sisa percakapan dini hari. Kosong itu penantian yang tak kunjung usai. Menanti hingga hari dan bulan terus berganti.</p>
<p>Malam telah berjelaga. Ritual malam khas anak kecil itu segera dimulai. Ritus penantian malam akan kedatangan sosok yang selalu dia rindukan.</p>
<p>Satu malam  purnama itu seorang anak menanti kedatangan ibunya. Dia duduk di teras depan rumahnya dengan posisi bersila, dia memeluk buku diary bersampulkan warna magenta. Dia membuka diary itu dan kemudian dibacanya pada lembar pertama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Hari ini aku sangat bahagia. Ibu mengajakku pergi ke area permainan yang jumlahnya banyak sekali. Aku dibelikan es krim dan makanan yang enak. Kata ibu nama makanan itu steak. Iya aku suka steak. Setelah itu ibu mengajakku ke toko buku. Disana dia membelikanku sebuah buku yang agak kecil jika dibandingkan dengan buku tulisku. Buku itu berwarna magenta. Dan ibu menyebutnya dengan sebutan buku diary. Pada saat itu pula ibu berkata kepadaku </em>“<em>Mulailah menulis dari hal yang terkecil, nak. Diary ini akan jadi teman berbagi</em><em><strong> </strong></em><em>yang terbaik jika ibu tak ada.” </em></p>
<p>“<em>Aku mulai menulis. Benar kata ibu bahwa menulis akan menjadi terapi yang terbaik untuk mengobati rasa sakit. Aku mempraktikkannya. Dan rinduku kepada ibu sedikit terobati. Hanya sedikit.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>MASIH ditempat yang sama. Anak kecil yang duduk di teras depan rumahnya dengan posisi bersila. Matanya menerawang entah kemana. Pandangannya kosong.  Dia betah sekali berlama-lama duduk diteras itu. Dingin malam Desember yang menggoda tak mampu patahkan niatnya untuk menunggu ibu yang dia cintai. Dia masih tetap duduk bersila dengan mendekap buku diary berwarna magenta. Sesekali air mata terjatuh dari kelopaknya yang terkatup sejenak dan terbuka lagi, menyapu pandangan mencari hadirnya seseorang yang dia tunggu. Air mata basahi pipinya. Basahi malam jua. Padahal malam sudah terlalu basah karena gerimis yang turun sedari tadi.</p>
<p>Dia masih akan duduk disana hingga ibunya datang, membopongnya dan kemudian membaringkannya ditempat tidur seperti biasa. Namun entah untuk malam ini. Apakah ibunya akan datang dan membopong dan kemudian membaringkannya ditempat tidur?.</p>
<p>Malam kian larut. Dia masih menunggu sang ibu. Namun ibunya tak kunjung pulang. Suara <em>heels</em> yang khas dari ibunya pun tak kunjung terdengar. Anak itu gundah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Pernah suatu kesempatan sang anak bertanya kepada ibu perihal pekerjaannya. Ibu hanya tersenyum kecut dan mengalihkan pembicaraan. Anak itu masih bertanya-tanya. Tak ada seorangpun yang mampu menuntaskan rasa keingintahuannya itu. Pada hari yang lain dia bertanya perihal ayahnya. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Dimana ayah, bu?”</em></p>
<p>“<em>Apa yang kau bicarakan?”</em></p>
<p>“<em>Ayah”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ibu membiarkan pertanyaanku dengan menangis sejadi-jadinya. </em></p>
<p><em>Ada apa dengan ibu? Aku bertanya perihal pekerjaan dia tak menjawab. Aku bertanya perihal ayah dia menangis. Ibu, rahasia apa yang kau simpan? Mungkinkah kau menyimpannya di diary seperti apa yang kau perintahkan kepadaku?”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anak kecil itu membuka lembar ke-4 diary itu. Membacanya lirih. Berharap kepenatan dia sedikit berkurang. Ya, menunggu itu penat.</p>
<p>Hingga kini dia belum tahu apa pekerjaan ibu. Orang-orang bilang pekerjaan itu terkutuk. Namun dia tak peduli dengan pekerjaannya dan tak akan pernah peduli. Dia hanya peduli tentang kepulangan ibu, kedatangan ibu dengan suara <em>heels</em> nya kemudian membopongnya yang tertidur menunggu diteras dengan membawa martabak yang telah dingin. Ah, ibu.</p>
<p>Beberapa saat setelah itu dia membuka lembar ke 124 buku diarynya. Dia menggoreskan penanya ke diary itu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Ibu cepatlah pulang!”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dia menuliskannya dengan ukuran yang besar. Seringkali dia menulis diary dengan hanya satu kalimat. Baginya itu cukup. Daripada berpanjang-panjang dengan kalimat yang tak penting.</p>
<p>Dan itu cukup merefleksikan kepribadiannya yang <em>introvert</em>. Setali tiga uang dengan kepribadian ibunya yang banyak menyimpan rahasia.</p>
<p>Anak itu membalikkan badan. Melihat jam dinding yang menggantung ditembok tepat dibelakang dia duduk bersila. Pukul 22.30. Pandangannya segera beralih ke jalan di emperan. Tak ada satupun kendaraan yang bersliweran. Tak terdengar satu suarapun yang memecah keheningan. Malam tak mampu lagi ditaklukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Anisa, Ibu sayang kamu.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seringkali dia mendengar perkataan itu dari ibunya. Ibunya tak pernah jera mengatakan itu. Sebagaimana Anisa yang tak pernah jera menunggu kepulangan ibunya. Iya, nama anak itu adalah Anisa. Gadis kecil berusia 6 tahun yang telah melewati kepahitan hidup yang tak biasa. Gadis kecil yang hanya berteman dengan boneka Barbie dan buku diary berwarna magenta dari ibunya karena tak ada satupun teman sebayanya yang diberi ijin untuk berteman dengan Anisa. Tak ada satupun teman sebayanya yang mau bermain dengan seorang anak jadah. Sesekali dia menumpahkan ketidakadilan hidup pada diary. Dia tak hendak mengadu pada ibu karena dia yakin ibu pasti akan kecewa dan sangat malu.</p>
<p>Satu jam telah berlalu tanpa basa-basi. Setengah jam lagi pukul 12 malam. Dan ibunya belum pulang juga. Anisa cemas. Diary tak lagi mampu jadi teman yang baik. Diary hanya mampu membisu. Sehati dengan tangannya yang kelu. Kali ini Anisa benar-benar menangis. Air matanya tak mampu dibendung lagi. Tak lagi basah. Kini, air matanya membanjiri pipi. Membanjiri kegundahan yang bersemayam dalam hati. Isak tangisnya lirih, gaduhkan malam yang perih.</p>
<p>Anisa mencoba beranjak dari teras. Dia berjalan keluar rumah. Menyapu pandangan ke kanan dan ke kiri. Masih terisak. Masih berharap ibunya segera datang. Anisa menggigit bibir, getir. Dia jongkok ditengah jalan. Hari masih malam. Masih ada sisa harapan bahwa ibu akan segera pulang sebelum fajar menyingsing. Dan Anisa tak akan putus asa. Tak kan pernah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>Tiga bulan setelah malam penantian panjang itu adalah terakhir kali Anisa menulis buku diarynya.  Disitu dia menulis. <em>Anisa sayang ibu.</em> Hari-hari pun berlalu dengan cepat dan diary itu kini menyisakan lembaran-lembaran kosong. Anisa  membiarkannya begitu saja. Membiarkan lembaran-lembaran dan hatinya yang kosong.</p>
<p>Dia  masih terdiam di teras itu. Kosong memenuhi dunianya. Kosong memenuhi ruang hatinya. Kosong memenuhi lembaran hari-harinya. Siapa bilang kosong itu berisi?  Kosong tetap saja kosong. Nihil.</p>
<p>Diary magenta itu kini telah usang. Tak sekalipun dia menjamahnya. Dan tak ada satupun niat untuk menjamahnya, membukanya, menghitung lembaran-lembarannya, apalagi membacanya. Dia tak hendak memverbalkan kata-kata dalam diary itu. Ketika mulutnya hendak bercakap lidahnya kelu. Ketika jemarinya hendak berjingkrak tangannya terbelenggu. Entah.</p>
<p>Ternyata menunggu adalah sebuah kebodohan dan penghianatan waktu. Menunggu itu kosong. Menunggu itu seperti ini, <em>“Seorang anak yang duduk di teras berjam-jam menanti kedatangan sang ibu, mendekap diary berwarna magenta dan sesekali menuliskan sesuatu didalamnya. Selalu menunggu dengan sejuta rasa rindu. Namun, ternyata penantian itu semu.</em>”</p>
<p>Anisa masih tak pernah mengerti dimana ayahnya dan apa pekerjaan ibunya. Anisa, anak kecil yang hanya mampu menunggu purnama berharap ibunya akan segera menyapa. Anisa yang  tak tahu dibelahan mana sekarang ibunya berada. Dan tak ada satupun orang yang tahu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>SATU dasawarsa lebih telah berlalu. Anisa kini benar-benar dewasa. Dia cantik. Dengan segala macam warna yang terlukis di wajahnya. Dengan berbagai warna yang membalut dalam busananya. Dengan <em>high heels</em> seperti apa yang dipakai ibunya. Dengan lenguhan panjang dan cekikan pada setiap malam karena ditindih oleh lelaki entah siapa. Anisa mungkin tau pekerjaan yang terkutuk itu. Pekerjaan ibunya dulu. Pekerjaan yang dia simpan dengan rasa pilu.</p>
<p>Pernah suatu hari ketika dia hendak berkeliling taman ria, dia melihat seorang anak merengek kepada ibunya. Anak itu minta dibelikan sebuah diary berwarna magenta, persis seperti miliknya yang telah usang itu. Namun ibunya menolak. Dia membiarkan anaknya merengek. Barangkali ibu itu tahu bahwa diary itu masih akan kosong berlembar-lembar nanti. Dan ibu itu tak ingin lembaran kosong menjelma menjadi hari-harinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Lina Hasna, </em></p>
<p><em>PNA, 11 November 2009</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=77&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/11/16/kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dan aku yakin semua akan indah pada waktunya</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/09/24/dan-aku-yakin-semua-akan-indah-pada-waktunya/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/09/24/dan-aku-yakin-semua-akan-indah-pada-waktunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 13:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita ajach...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Dan akupun menunggumu diantara jelaga yang hadir bersama rembulan yang mengambang. Aku menunggumu hadir disini.  Bukan hanya bayangan virtual yang banal.  Aku menunggumu bersama jejaring dunia maya yang menjadikan kita ada. Kita. Aku, kamu dan rasa ini. Dan aku memutuskan untuk menunggumu. Tanpa pretensi, tendensi atau bahkan hipertensi. Karena aku yakin semua akan indah pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=75&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan akupun menunggumu diantara jelaga yang hadir bersama rembulan yang mengambang. Aku menunggumu hadir disini.  Bukan hanya bayangan virtual yang banal.  Aku menunggumu bersama jejaring dunia maya yang menjadikan kita ada. Kita. Aku, kamu dan rasa ini.</p>
<p>Dan aku memutuskan untuk menunggumu. Tanpa pretensi, tendensi atau bahkan hipertensi. Karena aku yakin semua akan indah pada waktunya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=75&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/09/24/dan-aku-yakin-semua-akan-indah-pada-waktunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>wew</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/06/03/wew/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/06/03/wew/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 02:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/2009/06/03/wew/</guid>
		<description><![CDATA[wew<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=74&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>wew</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=74&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/06/03/wew/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Messianisme</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/22/messianisme/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/22/messianisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 03:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[in my opinion!!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Messianisme; Ejakulasi masyarakat di Negeriku Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan dualitas yang sangat sempurna; pagi – malam, suka – duka, baik – buruk, dan dualitas itupun silih berganti seiring dengan roda sang waktu yang terus berputar. Demikian adalah rangkaian dinamika kehidupan yang yang tak mampu terelakkan. Masalah dominasi ataupun seberapa lama otoritasi dualitas itu pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=70&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Messianisme;</strong></p>
<p align="center"><strong>Ejakulasi masyarakat di Negeriku</strong></p>
<p align="center">
<p align="center">
<p>Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan dualitas yang sangat sempurna; pagi – malam, suka – duka, baik – buruk, dan dualitas itupun silih berganti seiring dengan roda sang waktu yang terus berputar. Demikian adalah rangkaian dinamika kehidupan yang yang tak mampu terelakkan. Masalah dominasi ataupun seberapa lama otoritasi dualitas itu pun masih tak dapat di mengerti.</p>
<p>Dinegeriku sepertinya dualitas itu tak berlaku. Entah tak berlaku atau belum berlaku. Yang pasti saat ini negeriku sedang menangis pilu dalam jangka waktu yang cukup lama. Korupsi, krisis global, kemiskinan, penganiayaan, pembunuhan adalah realitas klise yang telah merajalela. Ditambah lagi dengan daftar panjang bencana yang terjadi beberapa waktu ini seperti Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo, Situ Gintung, kecelakaan maskapai penerbangan, dan lain sebagainya. Entah kutukan apa yang menimpa sehingga negeriku terpuruk seperti ini.</p>
<p>Tak ayal dengan situasi yang carut mawut seperti ini mayarakat di negeriku tentunya merasakan kekecawaan, ketakutan dan ketertindasan yang amat dalam. Diantara kekecewaan dan ketakutan itu masyarakat di negeriku hanya mampu menantikan sosok pemimpin, penyelamat yang diharapkan mampu membebaskan mereka dari hegemoni yang telah sekian lama membelenggu. Sekarang pertanyaannya “Siapa yang akan dijadikan sebagai juru selamat itu?”. Para pemimpin negeri yang mestinya dapat menjadi pengayom justru sibuk dengan urusan tetek bengek mereka sendiri. Berawal dari pertanyaan tersebut banyak masyarakat mencoba mendefinisikan penyelamat ini dengan cara dan budaya mereka masing – masing seperti Sang Mesias, Imam Mahdi, Ratu adil, <em>Cargo Cult</em>, dll. Maka paham yang menantikan akan kedatangan sang juru selamat ini disebut dengan istilah <em>messianisme</em> atau <em>mahdisme</em>.</p>
<p>Keinginan untuk hidup lebih baik dari <em>Era of Captivity</em> ataupun ketertindasan dengan memunculkan sosok pemimipin ataupun penyelamat adalah hal yang sangat wajar. Tak dapat disangkal bahwa wacana tersebut tak hanya timbul di negeriku. Konsep messianime ini lahir dari berbagai bangsa dan peradaban. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia memiliki naluri fitriah untuk memuja ataupun menyembah segala sesuatu yang memiliki kekuatan supranatural.<strong></strong></p>
<p><strong>Piramida Abraham Maslow</strong></p>
<p><strong> </strong>Setiap makhluk hidup pasti termotivasi untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Apalagi kebutuhan itu memiliki hirarki ataupun tingkatan yang mendasar. Maka manusia sebagai “<em>seeking animal</em>” akan mengerahkan daya upaya demi mewujudkan kebutuhan tersebut.</p>
<p>Sejenak mari kita menilik konsep <em>Hierarchy of Needs</em> (Teori Kebutuhan) dari pelopor aliran psikologi humanistik Abraham Maslow yang menempatkan “Kebutuhan akan rasa aman dan tentram” pada urutan kedua setelah Kebutuhan dasar. Konsep tersebut menunjukkan bahwa “Kebutuhan akan rasa aman dan tentram” merupakan hal yang siginfikan dalam kelangsungan berkehidupan</p>
<p>Contoh kasus manusia yang lapar pasti akan mengerahkan upaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam hal ini yang dimaksud pangan. Atapun kebutuhan dasar lain seperti kesehatan. Karena masyarakat dinegeriku tidak semuanya berasal dari kaum borjuis dan bisa dikatakan 40% diantaranya berasal dari kaum proleta, maka mereka membutuhkan tenaga medis yang murah. Walhasil, Ponari pun menjadi alasan yang tepat bagi mereka sebagai juru medis mesti pengobatan ini berlabelkan mistis dan sangat sulit dijangkau dengan logika.</p>
<p>Dalam perkembangan ilmu jiwa yang dinamis Sigmund Freud mengatakan bahwa manusia memiliki tiga system yang sangat penting yaitu id, ego dan super ego. Ego dibentuk dari id dan super ego dibentuk dari ego. Ketiganya saling mempengaruhi. Jika id dianggap sebagai hasil dari evolusi dan sebagai wakil rohaniah dari pembawaan biologis, dan ego sebagai hasil hubungan timbal balik dengan kenyataan yang obyektif dan ligkungan proses rohaniah yang lebih tinggi, maka superego dapat dianggap hasil sosialisasi dan adaptasi tradisi kebudayaan.</p>
<p>Kembali ke kasus Situ Gintung, Lumpur Lapindo, ataupun korban yang disebabkan oleh ketertindasan sosial lain. Tak dapat dipungkiri bahwa sekarang yang mereka butuhkan adalah kebutuhan akan rasa aman dan tentram. Hal ini merupakan respon normal manusia ketika  mengalami suatu ketegangan. Ketika mereka bertindak secara impulsive untuk menunggu sosok yang dapat menjadi juru selamat, mereka berada di bawah pengaruh id. Dan boleh dikatakan mereka sedang dikuasai oleh id-nya. Id tidak berpikir, ia hanya mengangankan atau bertindak. Jadi jika seseorang hanya terpengaruh oleh id tanpa diseimbangkan oleh ego atau superego maka dapat dikatakan mandul.</p>
<p><strong>Efek Messianime</strong></p>
<p>Disadari atau tidak makhluk hidup memiliki prinsip socio – intelektual naluriah ya’ni menanti. Semakin ia menanti semakin manusia itu memiliki tingkat kepekaan sosial yang tinggi. Meskipun terkadang menanti adalah hal konyol yang dilakukan bagi orang yang tak memiliki tujuan. Namun prinsip socio – intelektual ini justru seimbang jika dikaitkan dengan konsep messianisme. Namun apakah masyarakat di negeriku hanya mampu menanti tanpa ada aksi? Apakah hegemoni yang membuat carut mawut bangsa ini hanya menawarkan “penantian” sebagai solusi?.</p>
<p>Sikap pesimistik dengan menanti kedatangan sang juru selamat hanya menimbulkan kekerdilan kenyataan yang membuat masyarakat terasing dari dunia nyata. Pada dasarnya kemarahan dan kekecewaan hanyalah bunga &#8211; bunga dari kenyataan yang tak bisa berubah.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=70&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/22/messianisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan itu indah dan mencintai keindahan</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/tuhan-itu-indah-dan-mencintai-keindahan/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/tuhan-itu-indah-dan-mencintai-keindahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 13:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[whoever]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/tuhan-itu-indah-dan-mencintai-keindahan/</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan itu indah dan mencintai keindahan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=69&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan itu indah dan mencintai keindahan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=69&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/tuhan-itu-indah-dan-mencintai-keindahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Luminiscent</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/luminiscent/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/luminiscent/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 09:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Luminescent Aku bermimpi lagi. Kali ini aku menyaksikan cahaya yang sangat indah dan berkilauan. Cahaya itu berada jauh dari tempatku yang kelabu. Aku ingin meraihnya dan akan kusimpan di dalam kamarku agar aku tak pernah takut akan kegelapan itu lagi. Kegelapan yang merajuk pilu. Aku mencoba berlari untuk mengejarnya. Namun semakin aku berlari cahaya itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=65&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Luminescent</strong></p>
<p>Aku bermimpi lagi. Kali ini aku menyaksikan cahaya yang sangat indah dan berkilauan. Cahaya itu berada jauh dari tempatku yang kelabu. Aku ingin meraihnya dan akan kusimpan di dalam kamarku agar aku tak pernah takut akan kegelapan itu lagi. Kegelapan yang merajuk pilu. Aku mencoba berlari untuk mengejarnya. Namun semakin aku berlari cahaya itu semakin menjauh. Tiba – tiba aku terjatuh dan terjerembab ke dalam kubangan lumpur yang sangat menjijikan. Mana mungkin aku bisa mengejar cahaya itu jika tubuhku kotor seperti ini. Aku putus asa. Cahaya itu kian jauh dan menghilang dalam kegelapan yang sangat aku takutkan. Kegelapan yang merajuk pilu. Aku pun menangis dengan sangat lirih.</p>
<p>Kamis abu – abu menyapaku dengan muka kelabu. Dia merajuk menginginkan ku untuk mencumbu ruang sunyi. Entah sunyi atau kekosongan yang terkonsentrasi. Aku meragu. Angin fajar basah menjawab dengan menyodorkan gigil bersama dingin yang mendesir. Matahari masih pilu bersembunyi dibelakang semak – semak kebunku, dan aku disudut kelambu masih menunggu datangnya lazuardi biru. Lantunan adzan yang berseru menimbulkan respon syaraf motorik untuk segera membuka kedua mataku. Adzan pun usai namun ada seorang disana yang masih hendak bersuara. Aku mendengarkannya dengan seksama. Oh… Shitt!! Berita lelayu lagi. Kali ini datang dari keluarga Santoso. Dan aku benar – benar tak percaya. Shanti.</p>
<p>Dia seperti malaikat. Dia terlihat sangat cantik sekali mengenakan gaun putih. Tentu. Bukankah dia sangat menyukai warna putih? Dia pernah berkata kepadaku bahwa ada dua warna yang sangat dia sukai dari sekian warna yang terangkai dalam pelangi yang pertama adalah jingga yang merona dalam hangatnya senja dan yang kedua adalah putih. Baginya putih itu suci dan memiliki aura spiritualitas yang sangat tajam. Dia mengatakannya ketika kita masih sekolah menengah dan aku tak begitu peduli. Ah… aku sangat egois. Aku baru ingat saat sekarang saat dia terlelap selamanya dengan warna putih yang dia sukai itu. Warna putih yang dia bilang memiliki aura spiritualitas yang tajam.</p>
<p>Pemakaman adalah prosesi yang sangat sakral dimana semua orang hidmat dan larut dalam frekuensi yang sama yaitu kehilangan. Entahlah aku sangat menikmati suasana itu. Suasana yang menghadirkan kesatuan diantara keberagaman latar belakang pelayat yang hadir. Bagiku kehilangan adalah perasaan dimana orang dapat memahami arti eksistensi materi. Arti keberadaan orang yang kita sayangi.</p>
<p>Dan aku pun meninggalkannya. Shanti. Sahabat terbaikku yang tak kenal putus asa dalam menghadapi hari – harinya. Hari – hari yang begitu penat karena hanya terkapar dengan alat bantu pernafasan selama 2 bulan. Kepenatan itu tidak berlaku untuk Shanti karena dia masih bisa tersenyum walaupun dia tak bisa berlari, bercerita dan berbagi denganku. Aku yakin Shanti telah menemukan kebahagian yang sempurna disana dengan warna yang dia sukai. Putih.</p>
<p>***</p>
<p>Aku menyadap gemericik hujan yang membasahi bumi. Ricikannya yang beresonansi mampu menggaduhkan lamunanku. Seketika mataku terasa begitu berat untuk terbelalak. Sebenarnya aku mengidap sindrom insomnia akut. Namun mungkin syndrome dan hal – hal semacam itu hanyalah bersifat temporari. Segera kurebahkan tubuhku keatas ranjang tempat tidurku.</p>
<p>Aku bertemu dengannya. Dia bergaun putih. Gaun yang sama dengan yang dia kenakan lusa. Dia tersenyum sangat indah kepadaku. Senyum yang membuat merasakan kebahagiaan yang sangat dahsyat. Aku merasa seperti di awang – awang. Aku mencoba menghampirinya. Hendak menanyakan apa yang dia temukan di dunia sana, apakah mereka meributkan hal – hal remeh temeh seperti yang terjadi di Negara ini?. Dia tak berkata apa pun. Hanya senyum yang dia berikan kepadaku untuk menjawab pertanyaan yang kuberikan. Ah… Shanti. Kau memang selalu begitu.</p>
<p>Belum lunas kerinduanku dengannya dia telah meninggalkanku sendiri. Shanti… aku memanggilnya sekuat tenaga berharap dia akan segera kembali dan mengajakku pergi bersamanya. Pergi menjemput cahaya. Dia tetap berjalan menjauh dan aku hanya mampu melihat punggungnya dan lamat – lamat cahaya itu muncul kembali. Cahaya yang indah dan berkilauan. Cahaya itu merangkul Shanti dan meleburkannya dalam keindahan yang tak terelukan. Shanti… suaraku masih menggema memanggilnya, namun gema itu segera lenyap seiring dengan Shanti yang meninggalkanku dalam sunyi senyap.</p>
<p>Aku membuka mata dan segera beranjak dari tidurku. Ah… lagi – lagi hanya mimpi. Aku benci dengan tanda – tanda itu. Cahaya yang membuatku begitu terobsesi dan kematian sahabatku yang dijemput oleh cahaya itu. Aku tak mampu untuk mengurai lagi setiap arti yang tersurat begitu rapi. Sudah cukup aku dibayang – bayangi oleh ketakutan dari kegelapan yang memilukan.</p>
<p>***</p>
<p>Aku merindukannya. Entahlah kerinduan macam apa yang aku alami. Aku merindukan cahaya indah dan berkilauan yang hadir di mimpiku lusa. Cahaya yang serupa itu pun hadir menjemput Shanti pergi ketempat yang sama sekali tak ku ketahui. Entah terbuat dari apa cahaya itu sehingga membuatku merasakan candu yang menyerupai madu.</p>
<p>Aku menyadarinya. Cahaya yang indah dan berkilauan itu seperti warna putih yang sangat Shanti sukai. Aku merasa cahaya itu adalah tesis awalku untuk meninggalkan dunia ini. Untuk hipotesa awal aku memilih kematian sebagai kebenaran praduga untuk menjemput cahaya. Bagiku kematian itu membebaskan.</p>
<p><em>Tuhan, </em></p>
<p><em> Jika memang benar kematian itu indah</em></p>
<p><em> Izinkan aku untuk segera menjemputnya</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Aku tak hendak menunggu lagi…</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>***</p>
<p>“Kau ingat Shanti dengan tempat ini? Ini adalah tempat yang begitu kau sukai karena ditempat ini kita mampu menyaksikan begitu indahnya kerlap – kerlip lampu malam diseluruh kota. Katamu kita serasa menjadi raksasa dan rumah – rumah yang berkerlip itu seperti lilin yang begitu kecil dan tak berarti. Ketika kau mengatakan itu kepadaku, spontan aku tertawa dan menjitak kepalamu. Konyol! Kau berkata lagi Shanti bahwa kau hendak melemparkan tubuhmu kebawah padahal tempat itu begitu curam dan mengerikan. Dan aku ingat apa alasanmu berbicara seperti itu. Kau hendak mengambil semua kerlap – kerlip lampu di rumah – rumah itu. Shanti… kau memang begitu.</p>
<p>Angin malam mulai bertingkah dengan menghembuskan nafasnya kepadaku. Tentu saja aku terusik. Tiba – tiba aku melihatnya lagi : cahaya putih yang indah dan berkilauan. Cahaya itu mengajakku mengikutinya. Aku tak lagi berpikir panjang untuk menolak ajakannya. Aku mengikuti cahaya yang dengan menuntunku pelan. Aku menikmatinya. Kebahagiaanku kini sampai di ubun – ubun. Aku tak peduli dengan apapun yang terjadi disekelilingku. Cahaya itu mengajakku terus berjalan dan entah kenapa aku merasa seperti terbang.</p>
<p>Aku bahagia. Cahaya putih yang berkilauan dan sangat indah itu kini bisa kurengkuh. Aku dapat merasakannya. Kedamaian yang begitu sempurna dalam komposisi warna putih. Warna yang memiliki aura spiritualitas yang tajam. Seperti kata Shanti, sahabatku. Dan kini aku bersamanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=65&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/luminiscent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Berkalung Sorban</title>
		<link>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/perempuan-berkalung-sorban/</link>
		<comments>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/perempuan-berkalung-sorban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 08:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mynameishasna</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mynameishasna.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan Berkalung Sorban; Antara Islam, Feminisme dan Fundamentalisme Judul Film : Perempuan Berkalung Sorban Pemain: Revalina S. Temat, Oka Antara, Rezza Rahadian, Joshua Pandelaky, Widyawati Sutradara : Hanung Bramantyo Sebelum haqqul yakin dengan kebenaran aku tak mau mengangguk dan menjadi keledai sekalipun keledai seorang syaikh atau imam besar (Perempuan Berkalung Sorban_Abidah el Khaliqy) Setelah sukses [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=60&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Perempuan Berkalung Sorban;</strong></p>
<p align="center"><strong>Antara Islam, Feminisme dan Fundamentalisme</strong></p>
<p><img src="/wanita-berkalung-sorban.jpg" alt="" /></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center">Judul Film : Perempuan Berkalung Sorban</p>
<p align="center">Pemain: Revalina S. Temat, Oka Antara, Rezza Rahadian, Joshua Pandelaky, Widyawati</p>
<p align="center">Sutradara : Hanung Bramantyo</p>
<p align="center"><a href="#_ftn1"></a></p>
<p align="center"><em>Sebelum haqqul yakin dengan kebenaran<br />
aku tak mau mengangguk dan menjadi keledai<br />
sekalipun keledai seorang syaikh atau imam besar</em></p>
<p align="center"><em>(Perempuan Berkalung Sorban_Abidah el Khaliqy)</em></p>
<p><em> </em>Setelah sukses dengan film Ayat – ayat cinta, Hanung Bramantyo kembali berkarya dengan film bertajuk islam dengan judul Perempuan Berkalung Sorban yang diangkat dari novel karya Abidah el Khaliqy. Walaupun digarap oleh sutradara yang sama dan keduanya berangkat dari sebuah novel namun kesuksesan film ini tidak mampu bersaing dengan kesuksesan yang diraih Ayat – ayat cinta. Konsep yang ditawarkan dalam film ini pun jelas berbeda, Ayat – ayat cinta yang begitu melodramatis sedangkan Perempuan Berkalung Sorban yang idealis.</p>
<p>Kepiawaian sang Sutradara dalam pemilihan karakter tokoh di Film ini perlu diberikan apresiasi. Oka Antara yang berperan sebagai Khudlori pernah menyabet Pemeran pembantu terbaik di Film Ayat – Ayat Cinta dalam Festival Film Indonesia. Sedangkan Revalina S. Temat yang biasa tampil kalem disetiap filmnya kini ditantang untuk memainkan karakter Annisa yang berwatak keras. Namun akting Revalina tak bisa dipandang sebelah mata karena lewat film Perempuan Berkalung Sorban ini Revalina berhasil terpilih sebagai Pemeran Wanita Terfavorit dalam Indonesia Movie Award 16 Mei 2009.</p>
<p>Film ini berkisah tentang perjuangan, pengorbanan seorang perempuan bernama Annisa(Revalina S. Temat) yang hidup dalam lingkungan yang tidak seimbang. Lingkungan yang menganggap bahwa perempuan sangat lemah dan menjadin prioritas yang kesekian. Annisa merupakan putri seorang Kyai(Joshua Pandelaky) pemilik pondok pesantren salafiah Al – Huda, Jawa Timur yang konservatif. Bagi pondok Al – Huda Buku – buku kontemporer dianggap menyimpang dan para pembacanya dianggap komunis. Pondok pesantren tersebut memandang ajaran islam dengan pendekatan tekstualis, sehingga ajaran Islam menjadi persoalan yang hanya berkutat mengenai masalah halal dan haram. Annisa tidak sepakat dengan semua itu. Sejak dari kecil dia berusaha protes dan berontak namun hal ini hanya sia – sia karena ajaran tersebut telah begitu mendarah daging.</p>
<p>Adalah Khudlori(Oka Antara) yang berpihak kepada Annisa. Sebenarnya ibu Annisa(Widyawati) pun berpihak kepadanya namun dia hanya istri yang tak mampu berbuat apa – apa. Annisa mulai jatuh hati kepada Khudlori yang masih sebagai pamannya namun Khudlori tau diri dengan status dia yang bukan siapa – siapa. Dia mencoba membohongi perasaannya dan  memutuskan untuk meneruskan studinya ke Al – Azhar Kairo meninggalkan Annisa. Beberapa tahun berikutnya Annisa mencoba mendaftar kuliah ke Jogjakarta. Dia diterima masuk, namun Ayahnya tidak mengijinkan dengan alasan perempuan harus  ditemani dengan muhrimnya apabila dia berada diluar, karena jika tidak hal ini akan menimbulkan fitnah.</p>
<p>Walhasil, Annisa dinikahkan dengan seorang putera Kyai dari pesantren Salaf besar yang aktif sebagai donator tetap di pondok Ayah Annisa. Namun Syamsudin(Reza Rahadian) merupakan pemuda yang berakhlaq mazmumah meskipun dirinya adalah alumni Universitas Ummul Qura’ di Madinah. Hal ini dibuktikan Kalsum(Francine Roosenda) yang meminta pertanggungjawaban Syamsudin atas kehamilan dia setelah pernikahan berlangsung. Annisa sebenarnya enggan untuk menerima karena dia masih hendak mengejar mimpinya namun dia pun tak ingin jika dianggap sebagai anak durhaka dengan menolak permintaan orangtuanya.</p>
<p>Film yang dirilis pada 15 Januari 2009 ini sempat menuai kontroversi dari berbagai pihak. Pasalnya, film ini memberikan konsep yang salah kaprah terhadap ajaran Islam. Islam yang harusnya humanis malah terkesan kejam dan fundamentalis. Tak jarang pula film ini terlalu mendramatisir ataupun hiperbola.</p>
<p>“<em>Kita adalah wanita yang hidup dalam kondisi yang tak seimbang”</em></p>
<p>Menegasikan berbagai kritik, film ini berhasil menyampaikan pesan moral yang sangat kuat dalam hal feminisme. Walaupun demikian unsure feminisme yang diusung masih sesuai dengan konteks keislaman yang wajar. Semangat pengorbanan dan perjuangan Annisa patut ditiru oleh para perempuan saat ini. Sikap keteguhan hatinya dapat dengan jelas kita lihat dari kalimat bercetak miring yang saya kutip di awal tulisan tadi. Film ini menginspirasi bagaimana wanita selayaknya diperlakukan terutama dalam kehidupan rumah tangga. Wanita juga bebas berpendapat dan bertindak tapi tetap dalam koridor agama. Di sini ditunjukkan bahwa agama bukanlah doktrin semata, yang membuat derajat wanita dan laki-laki cukup curam grafik perbedaannya.</p>
<p>Selain dalam segi feminisme, unsur pendidikan pun begitu kental di sampaikan dalam film ini. Fundamentalisme dalam pendidikan saat ini tak dapat dipertahankan lagi. Setiap permasalahan yang terjadi tak boleh dihukumi jika hanya dengan menggunakan pendekatan tekstual tanpa memperhatikan konteks ataupun yang ada. Ilmu pengetahuan dan ajaran agama memiliki keterikatan antar satu dan yang lain.</p>
<p>Banyak sekali hal yang bisa kita petik dari karakter tokoh film ini. Sosok Annisa yang tak kenal putus asa dan berkemauan tinggi untuk belajar dan juga Khudlori yang begitu bijak dalam menyikapi masalah merupakan hal yang bisa menginspirasi dalam kehidupan keseharian dan proses pembelajaran kita.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mynameishasna.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mynameishasna.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mynameishasna.wordpress.com&amp;blog=6461090&amp;post=60&amp;subd=mynameishasna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mynameishasna.wordpress.com/2009/05/18/perempuan-berkalung-sorban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cbabee8cf2b2692ae424b0ab5dba015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mynameishasna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
