Hapeku sayang hapeku malang
Percaya dengan hari sial nggak? Kesannya berbau mistis dan illogical gitu ya? Tapi menurut saya hari sial itu memang ada. Hari itu adalah hari Jum’at. Hari dimana saya bebas dari segala aktifitas ngajar dan kuliah (maklum masih libur semesteran). Walaupun selain hari Jum’at saya masih ada hari Selasa dan Ahad untuk bersantai ria. Hari yang sudah saya atur sedemikian rupa agar dapat beristirahat dengan tenang ternyata tidak seperti yang saya harapkan. Saya telah ditakdirkan untuk mendapat serangkaian kejadian yang tidak saya harapkan dan sebenarnya tak akan pernah saya harapkan lagi. Hal yang paling menyebalkan adalah kehilangan hape LL apes banget kan?.
Saat itu saya baru saja selesai terima telpon dari teman saya yang sekarang berada di Kalimantan. Setelah itu saya langsung pergi ke TK adik bungsu saya guna membayarkan SPP. Selesai dari TK saya pergi kerumah Ati’ untuk membeli pulsa, ternyata sesampainya dirumah pulsa udah terkirim tapi hape sudah raib digondol siapa entah saya nggak ngerti. Saya telah mencoba untuk menghubunginya lewat miscall namun nomor saya relah tidak aktif. Terpaksa saya harus merelakannya.
Komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk saat ini. Kunci permasalahan agar dapat dipecahkan adalah dengan jalan komunikasi. Dan alat komunikasi yang paling mudah saat ini adalah handphone. Jika hape saya hilang terus bagaimana saya bisa berkomunikasi? Itulah yang saya bingungkan saat ini. Misskomunikasi dengan teman kantor, teman kuliah, dan teman – teman lain pun menjadi imbasnya. Hape yang sudah hilang mah… sudah saya ikhlas. Mau bagaimana lagi coba kalau nggal ikhlas. Toh mau sampai nangis darah pun hape itu nggak akan bali lagi. Sekarang permasalahan yang membuat saya bingung adalah bagaimana saya mendapat uang agar dapat membeli hape baru lagi. Padahal minggu – minggu ini adalah waktu untuk registrasi untuk semester empat. Pusing gilak! Nggak ding pusing aja ntar malah jadi gila bener lagi.
Sebenarnya bukan baru kali ini saya kehilangan hape. Sebelumnya saya juga pernah menghilangkan hape adik saya. Saya meninggalkan hape itu di sebuah warung makan. Dan ketika saya kembali lagi ke warung makan itu, hape tersebut telah tiada. Saya adalah ketegori orang selebor dan pelupa. Jadi hal hilang – kehilangan adalah hal yang sudah tidak asing bagi saya. Pada kasus sebelumnya saya juga menghilangkan MP3 yang dibelikan ayah sebagai gift untuk saya. MP3 itu pun juga tertinggal, saya lupa mengambilnya ketika sedang ngenet di warnet daerah saya.
Sepertinya saya harus belajar banyak mengenai filsafat Stoa(Stoisisme) oleh Zeno ataupun Seneca. Pasalnya ajaran tersebut menitik beratkan kepada penerimaan nasib. Segala apapun musibah yang terjadi selalu tersembunyi kebaikan, seolah – olah setiap bencana adalah rahmat yang tersembunyi(blessing in disguise) kata A. Sudiarja dalam bukunya Bayang – bayang. Dan saya percaya dengan hal tersebut. Karena penyelenggaraan Ilahi tak akan gampang untuk dimengerti.
Ada banyak pelajaran yang bisa saya petik dari musibah ini. Bahwasanya saya harus lebih teliti dan tidak selebor lagi dalam bersikap dan dalam situasi apapun agar tidak jatuh kelubang yang sama. Belajar dari kesalahan yang telah diperbuat adalah hal yang harus dilakukan dalam rangka proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Comments on: "btw, anyway, bus way" (1)
bner juga mbak !!
klo mbak’e hape, tapi klo aq flashdisk yg udah 3 kali tertinggal di warnet dan hilang semua.,.,itu waktu masih di MAN.,.,
wah.,.,