Entah. Di teras ini dia masih terdiam. Tinta tanpa makna yang kini tercecer di lembar kertas putih memilih membisu. Kebisuan macam apa ini? Tak ada satu huruf pun yang tertinggal di altar sunyi. Tak ada satu goresan pun yang tercoret di catatan ini. Jiwa ini telah mati. Sendiri di pelataran sepi.
Kosong itu pasi. Kosong itu belati yang siap menikam hati yang letih ini. Kosong itu judi; segala kemungkinan dan harapan tanpa intervensi. Kosong itu gerimis hambar di waktu pagi. Kosong itu sisa percakapan dini hari. Kosong itu penantian yang tak kunjung usai. Menanti hingga hari dan bulan terus berganti.
Malam telah berjelaga. Ritual malam khas anak kecil itu segera dimulai. Ritus penantian malam akan kedatangan sosok yang selalu dia rindukan.
Satu malam purnama itu seorang anak menanti kedatangan ibunya. Dia duduk di teras depan rumahnya dengan posisi bersila, dia memeluk buku diary bersampulkan warna magenta. Dia membuka diary itu dan kemudian dibacanya pada lembar pertama.
“Hari ini aku sangat bahagia. Ibu mengajakku pergi ke area permainan yang jumlahnya banyak sekali. Aku dibelikan es krim dan makanan yang enak. Kata ibu nama makanan itu steak. Iya aku suka steak. Setelah itu ibu mengajakku ke toko buku. Disana dia membelikanku sebuah buku yang agak kecil jika dibandingkan dengan buku tulisku. Buku itu berwarna magenta. Dan ibu menyebutnya dengan sebutan buku diary. Pada saat itu pula ibu berkata kepadaku “Mulailah menulis dari hal yang terkecil, nak. Diary ini akan jadi teman berbagi yang terbaik jika ibu tak ada.”
“Aku mulai menulis. Benar kata ibu bahwa menulis akan menjadi terapi yang terbaik untuk mengobati rasa sakit. Aku mempraktikkannya. Dan rinduku kepada ibu sedikit terobati. Hanya sedikit.
MASIH ditempat yang sama. Anak kecil yang duduk di teras depan rumahnya dengan posisi bersila. Matanya menerawang entah kemana. Pandangannya kosong. Dia betah sekali berlama-lama duduk diteras itu. Dingin malam Desember yang menggoda tak mampu patahkan niatnya untuk menunggu ibu yang dia cintai. Dia masih tetap duduk bersila dengan mendekap buku diary berwarna magenta. Sesekali air mata terjatuh dari kelopaknya yang terkatup sejenak dan terbuka lagi, menyapu pandangan mencari hadirnya seseorang yang dia tunggu. Air mata basahi pipinya. Basahi malam jua. Padahal malam sudah terlalu basah karena gerimis yang turun sedari tadi.
Dia masih akan duduk disana hingga ibunya datang, membopongnya dan kemudian membaringkannya ditempat tidur seperti biasa. Namun entah untuk malam ini. Apakah ibunya akan datang dan membopong dan kemudian membaringkannya ditempat tidur?.
Malam kian larut. Dia masih menunggu sang ibu. Namun ibunya tak kunjung pulang. Suara heels yang khas dari ibunya pun tak kunjung terdengar. Anak itu gundah.
“Pernah suatu kesempatan sang anak bertanya kepada ibu perihal pekerjaannya. Ibu hanya tersenyum kecut dan mengalihkan pembicaraan. Anak itu masih bertanya-tanya. Tak ada seorangpun yang mampu menuntaskan rasa keingintahuannya itu. Pada hari yang lain dia bertanya perihal ayahnya.
“Dimana ayah, bu?”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Ayah”
Ibu membiarkan pertanyaanku dengan menangis sejadi-jadinya.
Ada apa dengan ibu? Aku bertanya perihal pekerjaan dia tak menjawab. Aku bertanya perihal ayah dia menangis. Ibu, rahasia apa yang kau simpan? Mungkinkah kau menyimpannya di diary seperti apa yang kau perintahkan kepadaku?”
Anak kecil itu membuka lembar ke-4 diary itu. Membacanya lirih. Berharap kepenatan dia sedikit berkurang. Ya, menunggu itu penat.
Hingga kini dia belum tahu apa pekerjaan ibu. Orang-orang bilang pekerjaan itu terkutuk. Namun dia tak peduli dengan pekerjaannya dan tak akan pernah peduli. Dia hanya peduli tentang kepulangan ibu, kedatangan ibu dengan suara heels nya kemudian membopongnya yang tertidur menunggu diteras dengan membawa martabak yang telah dingin. Ah, ibu.
Beberapa saat setelah itu dia membuka lembar ke 124 buku diarynya. Dia menggoreskan penanya ke diary itu
“Ibu cepatlah pulang!”
Dia menuliskannya dengan ukuran yang besar. Seringkali dia menulis diary dengan hanya satu kalimat. Baginya itu cukup. Daripada berpanjang-panjang dengan kalimat yang tak penting.
Dan itu cukup merefleksikan kepribadiannya yang introvert. Setali tiga uang dengan kepribadian ibunya yang banyak menyimpan rahasia.
Anak itu membalikkan badan. Melihat jam dinding yang menggantung ditembok tepat dibelakang dia duduk bersila. Pukul 22.30. Pandangannya segera beralih ke jalan di emperan. Tak ada satupun kendaraan yang bersliweran. Tak terdengar satu suarapun yang memecah keheningan. Malam tak mampu lagi ditaklukan.
“Anisa, Ibu sayang kamu.”
Seringkali dia mendengar perkataan itu dari ibunya. Ibunya tak pernah jera mengatakan itu. Sebagaimana Anisa yang tak pernah jera menunggu kepulangan ibunya. Iya, nama anak itu adalah Anisa. Gadis kecil berusia 6 tahun yang telah melewati kepahitan hidup yang tak biasa. Gadis kecil yang hanya berteman dengan boneka Barbie dan buku diary berwarna magenta dari ibunya karena tak ada satupun teman sebayanya yang diberi ijin untuk berteman dengan Anisa. Tak ada satupun teman sebayanya yang mau bermain dengan seorang anak jadah. Sesekali dia menumpahkan ketidakadilan hidup pada diary. Dia tak hendak mengadu pada ibu karena dia yakin ibu pasti akan kecewa dan sangat malu.
Satu jam telah berlalu tanpa basa-basi. Setengah jam lagi pukul 12 malam. Dan ibunya belum pulang juga. Anisa cemas. Diary tak lagi mampu jadi teman yang baik. Diary hanya mampu membisu. Sehati dengan tangannya yang kelu. Kali ini Anisa benar-benar menangis. Air matanya tak mampu dibendung lagi. Tak lagi basah. Kini, air matanya membanjiri pipi. Membanjiri kegundahan yang bersemayam dalam hati. Isak tangisnya lirih, gaduhkan malam yang perih.
Anisa mencoba beranjak dari teras. Dia berjalan keluar rumah. Menyapu pandangan ke kanan dan ke kiri. Masih terisak. Masih berharap ibunya segera datang. Anisa menggigit bibir, getir. Dia jongkok ditengah jalan. Hari masih malam. Masih ada sisa harapan bahwa ibu akan segera pulang sebelum fajar menyingsing. Dan Anisa tak akan putus asa. Tak kan pernah.
***
Tiga bulan setelah malam penantian panjang itu adalah terakhir kali Anisa menulis buku diarynya. Disitu dia menulis. Anisa sayang ibu. Hari-hari pun berlalu dengan cepat dan diary itu kini menyisakan lembaran-lembaran kosong. Anisa membiarkannya begitu saja. Membiarkan lembaran-lembaran dan hatinya yang kosong.
Dia masih terdiam di teras itu. Kosong memenuhi dunianya. Kosong memenuhi ruang hatinya. Kosong memenuhi lembaran hari-harinya. Siapa bilang kosong itu berisi? Kosong tetap saja kosong. Nihil.
Diary magenta itu kini telah usang. Tak sekalipun dia menjamahnya. Dan tak ada satupun niat untuk menjamahnya, membukanya, menghitung lembaran-lembarannya, apalagi membacanya. Dia tak hendak memverbalkan kata-kata dalam diary itu. Ketika mulutnya hendak bercakap lidahnya kelu. Ketika jemarinya hendak berjingkrak tangannya terbelenggu. Entah.
Ternyata menunggu adalah sebuah kebodohan dan penghianatan waktu. Menunggu itu kosong. Menunggu itu seperti ini, “Seorang anak yang duduk di teras berjam-jam menanti kedatangan sang ibu, mendekap diary berwarna magenta dan sesekali menuliskan sesuatu didalamnya. Selalu menunggu dengan sejuta rasa rindu. Namun, ternyata penantian itu semu.”
Anisa masih tak pernah mengerti dimana ayahnya dan apa pekerjaan ibunya. Anisa, anak kecil yang hanya mampu menunggu purnama berharap ibunya akan segera menyapa. Anisa yang tak tahu dibelahan mana sekarang ibunya berada. Dan tak ada satupun orang yang tahu.
SATU dasawarsa lebih telah berlalu. Anisa kini benar-benar dewasa. Dia cantik. Dengan segala macam warna yang terlukis di wajahnya. Dengan berbagai warna yang membalut dalam busananya. Dengan high heels seperti apa yang dipakai ibunya. Dengan lenguhan panjang dan cekikan pada setiap malam karena ditindih oleh lelaki entah siapa. Anisa mungkin tau pekerjaan yang terkutuk itu. Pekerjaan ibunya dulu. Pekerjaan yang dia simpan dengan rasa pilu.
Pernah suatu hari ketika dia hendak berkeliling taman ria, dia melihat seorang anak merengek kepada ibunya. Anak itu minta dibelikan sebuah diary berwarna magenta, persis seperti miliknya yang telah usang itu. Namun ibunya menolak. Dia membiarkan anaknya merengek. Barangkali ibu itu tahu bahwa diary itu masih akan kosong berlembar-lembar nanti. Dan ibu itu tak ingin lembaran kosong menjelma menjadi hari-harinya.
Lina Hasna,
PNA, 11 November 2009
